Pendekatan Psikometrik
Pengukuran Psikometrik Tradisional
Pada
awal abad ke-19, ada upaya untuk mengukur kecerdasan dari karakteristik seperti
ukuran kepala, waktu reaksi, kemudian tes tes yang mengukur kekuatan remasan
tangan, kesensitifan terhadap rasa sakit, berat, penilaian terhadap waktu, dan
juga menghafal. Namun tes ini hanya memiliki nilai prediksi yang sangat kecil.
Namun pada
awal abad ke-20, psikolog Alfred Binet menemukan cara mengidentifikasi anak yang
tidak mampu menangani tugas. Tes yang dikembangkan oleh Binet dan Theodore
Simon adalah tes psikometrik. Anak prasekolah lebih mudah mengikuti tes
daripada bayi dan batita karena anak 3-5 tahun lebih mahir dalam berbahasa. Dua
tes individu yang umum digunakan untuk anak prasekolah adalah:
1. Standford-Binnet Intelligence Scale
Tes untuk anak usia 2 tahun ke atas. Tes ini berlangsung sekitar 45-60 menit. Anak diminta untuk mendefinisikan kata-kata, menderetkan biji, membuat bangunan dari balok, mengidentifikasi gambar yang hilang, menelusuri labirin, dan juga menujukkan pehamaman angka.
Skor anak dianggap sebagai kemampuan penalaran yang cair, pengetahuan, penalaran kuanitatif, penalaran visual spasial, dan ingatan jangka pendek. Selain memberikan IQ dengan skala penuh, tes ini juga menghasilkan pengukuran terpisah terhadap IQ verbal dan nonverbal, dan skor komposit pada lima dimensi kognitif.
2. Wechsler Preschool and Primary Scale of Intelligence, Revised (WPPSI-III)
Tes
berlangsung 30-60 menit sesuai tingkat usia dari 2,5-4 dan 4-7 tahun. Tes ini
menghasilkan skor verbal dan kinerja yang terpisah. Revisi pada 2002,
memasukkan subtes baru yang didesain mengukur penalaran cair, baik verbal atau
nonverbal, kosakata reseptif, ekspresif, dan kecepatan pemrosesan. WPPSI-III
sudah divalidasi untuk populasi khusus seperti anak dengan kesulitan
intelektual, keterlambatan perkembangan, kelainan bahasa, dan kelainan autistik.
Daftar Pustaka :
Papalia, Old, & Feldman. (2009). Perkembangan Manusia. Jakarta: Salemba Humanika.



Komentar
Posting Komentar