Sejumlah peneliti Indonesia berikhtiar mencari penawar Covid-19
Penemuan terbaru peneliti Indonesia
Berbagai
kelompok peneliti di seluruh dunia tengah berlomba untuk menemukan vaksin
Covid-19. Vaksin, umumnya berupa virus atau bagian dari virus yang telah
dilemahkan, disuntikkan ke dalam tubuh untuk membantu sistem kekebalan
mengenali mereka sebagai penyerang dan belajar melawannya. Hal serupa terjadi
di Indonesia yang telah mulai pengembangan vaksin untuk virus Covid-19,
sejumlah peneliti di Indonesia mengidentifikasi senyawa-senyawa dari bahan herbal
yang berpotensi sebagai obat.
Muhammad
Sahlan, peneliti di Fakultas Teknik Universitas Indonesia, mengembangkan
propolis sebagai "alternatif pengobatan" untuk Covid-19. Propolis,
yang juga dikenal sebagai "lem lebah", adalah zat resin yang
dikumpulkan oleh lebah dari berbagai jenis tanaman. Ekstrak propolis dikenal
memiliki berbagai manfaat antara lain antiseptik, anti-inflamasi, antioksidan,
antikanker, hingga menguatkan sistem pertahanan tubuh. Ia berusaha "mensaintifikasi"
manfaat propolis dengan meneliti struktur molekulnya, melihat caranya berikatan
dengan molekul target dalam sel.
Akhir
Januari lalu, ilmuwan di China menerbitkan publikasi tentang struktur protease
virus Covid-19, bagian yang digunakan oleh virus untuk menempel pada sel inang,
ia menyertakan molekul sintetis disebut N3, yang bisa menjadi inhibitor atau
penghambatnya. Setelah mengetahuinya, Sahlan dan kawan-kawan melakukan pemodelan
dengan senyawa-senyawa kimia yang berasal dari propolis. Senyawa-senyawa itu
dinilai berdasarkan kemampuannya untuk menempel pada struktur protease virus
Covid-19 sehingga membuatnya jadi tidak bisa menempel pada sel manusia.
Ia
menemukan tiga dari sembilan senyawa yang ada di propolis asli Indonesia bisa
menempel yang cukup baik pada virus Covid-19. Bila senyawa N3 memiliki nilai
-8, senyawa Sulawesins a memiliki nilai -7.9, Sulawesins b -7.6 dan
deoxypodophyllotoxin -7.5. "Semakin negatif nilai yang dimiliki, semakin
besar kemampuan senyawa menempel pada virus Covid-19," kata Sahlan.
"Makanya saya bilang, ini kelihatannya kita punya potensi."
Seluruh penelitian dilakukan di komputer atau in silico. Sahlan mengatakan, untuk bisa sampai ke tahap uji preklinis (uji coba pada hewan) dan uji klinis (uji coba pada manusia), ia membutuhkan sampel virus Covid-19.
"Kita
berharap sampai ke situ (uji klinis), tinggal ketika kita punya akses untuk
bisa ke situ, kita akan lakukan," ujarnya.
Selain
propolis, ada juga flavonoid yang dilakukan oleh Pusat Studi Biofarmaka
Institut Pertanian Bogor (IPB). Para peneliti mendapatkan 56 senyawa sintetis dan
396 protein – baik pada virus maupun sel manusia – yang bisa dijadikan target.
Kemudian mereka menggunakan teknik pembelajaran mesin atau machine learning untuk membangun sebuah jaringan yang dicocokkan dengan 1400 senyawa di basis data tanaman obat yang diciptakan Departemen Farmasi UI, herbaldb.Setelah mendapatkan senyawa yang cocok, dilakukan simulasi secara in silico untuk melihat apakah senyawa tersebut bisa menempel dengan baik dengan protein tertentu.
Kepala
Pusat Studi Biofarmaka Tropika IPB, Irmanida Batubara, mengatakan sebagian
besar senyawa yang potensial sebagai obat Covid-19 termasuk dalam golongan
flavonoid, yang dihasilkan tanaman-tanaman herbal.
"Itu
sudah terbukti secara in silico bahwa mereka bisa menghancurkan protein pada
virus corona sehingga dia mampu merusak virus corona, dan di sisi lain, si
senyawa metabolit sekunder ini pun mampu meningkatkan daya tahan tubuh manusia
sehingga bisa menangkal serangan dari virus corona," ia menjelaskan.
Data Source : https://www.bbc.com/indonesia/majalah-51850170


Komentar
Posting Komentar