Lulus Sekolah dan Jadi Mahasiswa Baru Jalur Covid-19 ?

Pengalaman Sebagai Pelajar Tahun Ajaran Covid-19

Sebagai seseorang yang tamat sekolah menengah serta masuk ke perguruan tinggi di tengah hiruk piruk Covid-19, saya pun turut merasakan berbagai dampak nyata kejadian yang menyulitkan kita semua ini. Mulanya saat sedang berlangsungnya pekan ujian akhir sekolah, pihak sekolah mengumumkan bahwa ujian ditunda sementara dan sekolah di liburkan selama dua pekan. Saat itu yang terlintas hanyalah rasa senang layaknya siswa yang mendengar kabar libur sekolah pada umumnya, tidak terpikirkan sama sekali bahwa libur dua pekan yang dimaksud berlangsung sampai detik ini. Sangat miris bukan. 

Ujian akhir yang sempat ditunda itu akhirnya dilanjutkan secara online di rumah masing masing. Pengalaman pertama melakukan ujian secara online menurut saya pribadi sangat tidak berkesan. Tidak ada riuh suara teman, tatapan tajam dari pengawas, serta drama jika ada yang tertangkap menyimpan catatan dibawah kolong meja. Oleh karena itu, saya merasa sangat bersyukur karena pernah merasakan hal hal tersebut sebelum akhirnya pembelajaran diadakan secara online. 

Ujian nasional yang merupakan salah satu syarat untuk lulus dari sekolah menengah menjadi ditiadakan. Saat itu saya dan teman teman merasa sedikit kecewa karena jauh sebelum itu sekolah telah menginstruksikan para siswa dari dua jurusan (IPA dan IPS) untuk menentukan mata pelajaran apa yang akan mereka pilih untuk mengikuti ujian nasional nanti. 

Untuk siswa jurusan IPS terdapat tiga pilihan yaitu sosiologi, geografi, atau ekonomi. Hal yang sama berlaku pada jurusan IPA, mereka dapat memilih antara pelajaran biologi, fisika, ataupun kimia. Bagi saya pribadi yang merupakan seseorang yang mengabdi di kelas sains, pilihan itu tidak sulit karena saya tahu apa yang saya ingin, biologi. Alasan saya memilih biologi sebagai pelajaran yang akan saya ikuti di UN karena saya sangat tertarik pada fenomena biologis yang terdapat di bumi, selain itu alasan termasuk akal saya adalah saya tidak menguasai fisika maupun kimia. 

Selain kecewa karena sudah menentukan mata pelajaran ujian nasional, kami juga kecewa karena kami telah menghabiskan selama kurang lebih empat bulan menjalani pembelajaran tambahan untuk persiapan ujian nasional. Pembelajaran ini cukup menguras tenaga, karena dilakukan langsung setelah pembelajaran formal di sekolah berakhir. Oleh karena itu kami merasa kecewa karena persiapan yang kami lakukan tidak dapat dilihat hasilnya. Namun tidak dipungkiri bahwa juga ada rasa senang karena kami tidak lagi merasa takut akan nilai ujian nasional yang tidak baik karena nilai tersebut nantinya akan tercetak di ijazah sekolah. 

Hal mengecewakan lainnya adalah dibatalkannya rencana perpisahan dan juga acara wisuda yang awalnya direncanakan akan dilaksanakan di kota Malang, Jawa Timur. Berbagai macam rencana seperti memetik apel di kebun, pergi ke jawa timur park, bahkan acara yang paling krusial yang hanya dapat dilakukan saat di kota tersebut yaitu pergi melihat matahari terbit di gunung bromo hanya menjadi sebatas rencana. 

Setelah mengalami kelulusan yang menyedihkan, perjalanan untuk masuk ke perguruan tinggi pun tidak kalah menyedihkan. Banyak perubahan terhadap jalannya tes masuk perguruan tinggi (UTBK) sehingga kami, para calon mahasiswa diharuskan untuk selalu mengikuti perkembangan terkini tentang hal tersebut. Lalu saat sudah masuk perguruan tinggi pun hal serupa saat SMA kembali terjadi, bahkan mungkin lebih mengecewakan. Saya sebagai seorang mahasiswa baru tidak dapat merasakan riuhnya acar ospek kampus yang menjadi acara paling penting bagi mahasiswa baru biasanya. Saya dituntut untuk selalu aktif dalam sosial media dimana kami harus senantiasa memegang gadget agar bisa memiliki kenalan baru di kampus. Itu merupakan salah satu hal yang sulit bagi saya, karena saya bukan tipe orang yang gadget 24 hours

Pembelajaran pun diadakan secara online. Di Universitas Gunadarma sendiri pembelajaran online dibagi menjadi dua sesi, sesi menggunakan video conference dan sesi menggunakan v-class. Sebagai mahasiswa baru yang buta akan dunia perkuliahan, menjadi mahasiswa angkatan Covid-19 merupakan hal yang sulit karena minimnya informasi yang ada. Selain itu, karena adanya Covid-19 ini saya belum dapat merasakan rasanya pergi ke kampus bertemu tatap muka dengan dosen dan berbincang dengan teman teman. Namun untuk bertemu dengan teman, saya sudah beberapa kali melakukannya karena keperluan tugas kelompok walaupun baru bertemu sebagian tapi saya merasa senang karena merasakan sedikit euphoria perkuliahan. 

Tidak terasa seiring berjalannya waktu, new normal pembelajaran online ini telah saya jalani sampai sekarang sudah semester dua. Bahkan sampai saat ini saya masih selalu berharap agar kasus Covid-19 di Indonesia mencapai angka nol, dengan begitu semua keadaan akan kembali seperti sedia kala sebelum adanya kasus tersebut

Komentar

Postingan Populer